Kisah Paku…

Alkisah, ada seorang anak, sebut saja Fulan. Si Fulan ini rupanya seorang anak yang suka sekali marah. Setiap ada masalah kecil ia langsung marah. Melihat tingkah laku anaknya, sang Ayahpun berpikir, bagaimana caranya untuk bisa menahan marah anaknya.

Pada suatu ketika, Fulan pulang ke rumah dalam keadaan penuh dengan amarah, lalu sang Ayah mendekatinya, dan memberi si Fulan paku. Sang Ayahpun menyuruh Fulan untuk memakukan sebuah paku ke pagar kayu belakang rumah..

Serasa mendapat tantangan, Si Fulan mengikuti apa yang diperintahkan sang Ayah. Ternyata, pada hari pertama ia berhasil memakukan 16 buah paku ke pagar kayu. Hari demi hari pun belalu, secara bertahap jumlah paku yang ditancapkan Fulan ke pagar kayu semakin berkurang, dan pada suatu hari ia berhasil tidak memakukan sebuah paku ke pagar kayu. Fulan menyadari bahwa hanyalah kesia-siaan yang didapat ketika ia marah dan kemudian menancapkan paku ke pagar kayu.

Ia kemudian berkata pada sang Ayah,”Ayah, hari ini aku sudah tidak lagi memakukan satu buah paku ke pagar, aku sudah bisa menahan marah dan mengendalikan emosiku. Sang Ayah tersenyum dan menjawab “Bagus, sekarang setiap kali engkau dapat menahan marahmu, maka cabutlah satu buah paku yang sudah kamu pakukan.”

Lagi-lagi serasa mendapat tantangan, Fulan menjalankan apa yang sang Ayah perintahkan. Ia mulai mencabuti paku-paku di pagar belakang rumah satu per satu setiap kali ia dapat menahan marah.

Si Fulan telah menyelesaikan tugasnya untuk mencabuti semua paku, dan ia melaporkan perkara ini kepada sang Ayah. Sang Ayah bangkit dan berbicara,”Duhai anakku, lihatlah pagar kayu itu. Sebelum engkau memakukan paku, pagar itu tampak mulus, namun lihatlah sekarang, banyak sekali lubang-lubang kecil bekas paku.”

“Ketika engkau marah kepada seseorang, mungkin saja orang tersebut sudah memaafkan kesalahanmu, akan tetapi bagaimanapun juga tetap saja ada sisa di hati orang tersebut yang tidak mungkin hilang selamanya.”

Kawan, bukan perkara yang sulit untuk meminta maaf kepada orang yang kita sakiti, akan tetapi merupakan hal yang sangat sulit untuk tidak meninggalkan bekas apa yang telah kita lakukan kepada orang tersebut. So, berhati-hatilah dalam bertindak, pikirkan dahulu sebelum berbuat.


This entry was posted in cerita teladan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s