Burung, Monyet, dan Siput

Di sebuah hutan, tinggallah seekor burung, monyet, dan siput. Setiap pagi burung berkicau merdu, terbang ke sana kemari. Dia bebas mengepakkan sayapnya dan menjelajahi seisi hutan itu. Dia terlihat begitu bahagia. Si monyet pun demikian, ia tampak begitu lincah. Melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Hidupnya terlihat begitu mengasyikkan.

Lain halnya dengan siput, ia memandang iba pada dirinya sendiri. Dia menangisi dirinya yang terlahir tanpa sayap seperti yang burung miliki, dia menyayangkan dirinya yang tidak tercipta selincah monyet. Setiap hari siput hanya berdiam diri, meratapi nasib dan sesekali memandang indahnya hidup burung dan monyet.

Hingga kemudian, di suatu pagi…

Sang burung datang mengepakkan sayapnya sampai terengah-engah. Dia tampak begitu panik dan khawatir. Monyet yang merasa heran melihat tingkah burung yang berbeda dari biasanya pun menyapa burung seraya bertanya,

“Hai burung, ada apa? Mengapa kau terlihat begitu panik?”

“Hei monyet, aku mendengar berita buruk. Ada sekelompok manusia yang hendak menangkap semua hewan di hutan ini untuk diperjualbelikan.”

Siput yang turut mendengar jawaban dari burung tersentak, “hah, apa aku termasuk salah satu hewan yang akan di tangkap itu?”

“Ya siput, semua hewan termasuk kau!”

“Lantas kau mau pergi ke mana burung?” tanya monyet.

“Aku ingin terbang sejauh mungkin sampai mereka tak bisa temukan aku.”

“Baiklah aku juga ikut bersamamu, aku akan melompat dari satu pohon ke pohon lain sampai di tempat yang kurasa mereka tak dapat menemukanku”

Burung dan monyet bergegas pergi. Siput semakin menciut karena ia sadar bahwa dirinya tak dapat ikut bersama mereka. Lantas siput berteriak, “Hei, bagaimana denganku? Aku tak bisa terbang dan melompat. Apa yang harus kulakukan agar selamat? ”

“Kau punya cangkang kawan!” jawab burung singkat lalu meneruskan perjalanannya.

Siput tertegun mendengarnya.

“Cangkang?! Cangkang?!” pikirnya melambung.

“Ya kau benar kawanku, aku punya cangkang.” Ucapnya lirih. Sang siput pun segera bersembunyi di dalam cangkangnya.

Saudaraku…

Betapa sering perhatian kita terpusat pada apa yang tidak kita miliki, sehingga kita lupa bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Betapa sering perhatian kita terpaut pada kekurangan yang ada pada diri, sehingga kita lupa bahwa ada kelebihan yang harus di sikapi dan di syukuri. Kita sibuk menghitung-hitung bahkan membangga-banggakan kelebihan dan kehebatan orang lain hingga mengerdilkan bahkan merendahkan diri sendiri.

Tidak perlu kau membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain. Karena Allah telah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Allah Maha Adil, sobat.🙂

Sekarang baliklah semua inti perhatianmu…

Mulailah untuk memperhatikan apa yang sudah kau miliki, kemudian syukuri!

Mulailah untuk memperhatikan kelebihanmu, kemudian sikapi dan syukuri!

This entry was posted in cerita islami, cerita teladan, Manajemen Qalbu. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s