500.000 atau 1.700.000

Ketika dunia sudah semakin menua. Dan penduduknya pun sudah semakin menggila; gila harta, gila jabatan, gila penghormatan, dan lain sebagainya. Sehingga kalau kita disodorkan pada 2 pilihan, kebanyakan akan cenderung memilih pilihan yang paling menguntungkan. Tanpa pikir panjang. Namun, tentunya tidak semua. Karena masih ada segelintir orang yang ‘waras’.

Seorang teman pernah mengajar di sebuah pesantren yang jauh dari tempat asalnya di Tangerang. Ia ditugaskan ke Aceh selama kurang lebih satu tahun lamanya, dengan upah Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) setiap bulannya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Singkat cerita, tertunaikan sudah amanah yang dipikulnya. Dan tiba saatnya untuk kembali ke kampung halamannya, Tangerang.

Ketika pulang, ia pun mendapat tawaran untuk mengajar lagi di sebuah pesantren yang tidak terlalu jauh dari kota tempat tinggalnya. Dengan upah Rp 1.700.000 (satu juta tujuh ratus ribu rupiah) perbulan. Tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan upah saat mengajar di Aceh. Namun apa yang terjadi? Ia hanya bisa bertahan selama 1 minggu! Ada apa gerangan? Dari segi fasilitas jauh lebih bagus, ketika mengajar di Aceh tempat tinggalnya amat sangat sederhana, sandal pun ‘halal’ masuk sampai sisi dipan tempat tidur. Ketika di Aceh kasurnya tipis, di tempat mengajarnya yang baru kasurnya tebal, tentu lebih nyaman untuk istirahat. Masalah makan, ketika di Aceh masak sendiri, belanja bahan-bahannya sendiri. Di tempat mengajarnya yang baru, makanan siap tinggal santap! Ketika di Aceh, kalau ada santri yang dijenguk oleh keluarganya, biasanya sebatas makanan-makanan ringan seperti kue-kue kering yang dibawa. Tapi di tempat mengajarnya yang baru, yang dibawa adalah makanan-makanan junk food! Seperti KFC dan sejenisnya. Dan otomatis ada jatah khusus untuk ustadznya.

Usut punya usut ternyata ini masalah ’taste’… Bukan sekedar masalah uang, uang dan uang!

Jadi, saat mengajar di Aceh ia terbiasa ‘bergerak’ dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Banyak kontribusi yang bisa ia berikan. Dengan itu ia merasa menjadi orang yang bermanfaat. Namun di tempat mengajarnya yang baru, ruang geraknya terbatas. Meskipun fasilitasnya terlihat lebih menggiurkan, ia merasa lebih nyaman ketika mengajar di Aceh dengan segala kesederhanaannya, tapi keberadaannya di sana lebih banyak manfaatnya. Dan akhirnya, ia pun berencana untuk kembali lagi ke Aceh, ke pesantren yang sederhana itu…

Kita bisa menyimpulkan, bahwa;

1. Ia telah memperhitungkan dengan ‘hitungan akhirat’. Lebih banyak bergerak, lebih banyak berkontribusi, maka otomatis lebih banyak ia memberikan manfaat. Dan itu kesempatan dia untuk menjadi sebaik-baik manusia di mata Allah swt. Rasulullah saw bersabda;

Diriwayatkan dari Jabir berkata, Rasulullah saw bersabda, “Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Hadits ini dishahihkan oleh al Albani di dalam “Ash-Shahihah” nya.

2. Ia telah mengutamakan akhirat dari pada dunia. Ia lebih memilih pekerjaan dengan upah Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) tiap bulannya tapi ia lebih banyak manfaatnya di sana, dibandingkan upah Rp 1.700.000 (satu juta tujuh ratus ribu rupiah) tapi ia sedikit manfaatnya di sana. Allah swt berfirman;

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS.An-Nazi’at:37-41)

3. Ia memahami bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal. Allah swt berfirman;

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (QS.Al-Qoshosh: 60)

Pada akhir tulisan ini, penulis mengutip sedikit kalimat hikmah dari sebagian shohabah dan ulama:

  • Ali Ra berkata, “Barangsiapa yang menyembah dunia dan mengutamakannya di atas akhirat, akan mendapat akibat yang buruk”.
  • Imam Asy-Syafi’i berkata, “Wahai orang yang gandrung dunia, ingatlah dunia ini tidak kekal. Sore dan pagi datang silih berganti.”
  • Yahya bin Mu’adz berkata, “Orang mulia tidak akan durhaka kepada Allah, dan orang bijak tidak akan mengutamakan dunia daripada akhirat.”

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan dia akhirat serta jagalah kami dari api neraka.

Wallahu a’lam.

This entry was posted in cerita teladan, Kisah, pengembangan diri. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s