Tidak Bisa Menjaga Lisan, Lebih Baik Diam


Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab : 32)

Terkadang masalah kecil sekejap menjadi sebuah masalah yang luar biasa besar hanya dengan salah berbicara. Lidah, Allah menciptakan lidah yang berfungsi untuk mengecap berbagai rasa dan untuk memudahkan lafadz berbicara. Bicaranya bayi berbeda dengan balita, bicaranya balita berbeda dengan remaja, berbicaranya remaja berbeda dengan orang dewasa. Tingkat pemilihan bahasa menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Bayi melihat dan mengikuti orang yang sedang berbicara dengannya walaupun dengan suara tidak dimengerti secara harfiah. Balita cenderung bebicara dengan kalimat tanya kepada orang tuanya, dan mengikuti bahasa orang yang sering diajaknya berbicara. Remaja berbicara mengikuti hawa nafsunya, berbeda dengan orang dewasa yang berbicara mengikuti logika dan kapasitas ilmunya. Kalau seorang ibu rumah tangga berbicara apa saja yang ada dikepalanya, mengikuti hawa nafsunya berarti ibu itu masih memiliki mental remaja walaupun umurnya sudah berkepala 4.

Mungkin banyak di sekitar kita, tetangga kita yang kaum wanitanya berbicara seperti anak-anak remaja walaupun topik mereka sudah seputar anak dan rumah tangga. Mereka berbicara sangat super (lebay) mengenai segala hal, tidak proporsional. Bahkan, maaf, mereka yang memiliki suami terkadang masih ganjen kepada suami orang lain karena keasyikan ngegosipin suami tetangga. Suara mereka dimerdu-merdukan untuk memancing perhatian lawan jenisnya, padahal sudah memiliki suami. Fenomena semacam ini sudah banyak penulis temui, terutama di kawasan padat penduduk yang sebagian wanitanya 24 jam berada di rumah tanpa memiliki kesibukan apapun. Penulis tidak berasumsi bahwa semua ibu rumah tangga yang 24 jam di rumah berprilaku sama. Tetapi mereka yang ditinggal oleh suaminya bekerja, dan dia tinggal bersama anak-anaknya tanpa memiliki aktifitas selain ngerumpi dengan tetannganya seputar gosip tehangat di kalangan mereka, biasanya lebih agresif terhadap suami orang lain walaupun terlihat sekedar bercanda, justru hal ini yang harus diperhatikan terutama oleh suami yang meninggalkan istri dan anaknya untuk bekerja, setidaknya suami meningalkan pesan moral terhaap keluarganya. Seperti ayat yang sudah di kemukakan di atas. Wanita yang sudah memiliki suami maka ada hal yang harus dijaga untuk menghindarinya dari perilaku negatif yang pastinya berdampak buruk bagi dirinya, yaitu menjaga lisannya.

Allah mengangkat derajat wanita yang bisa menjaga dirinya dan betakwa kepada Allah SWT. Sekiranya ada 9 wanita yang dengan perbuatannya Allah abadikan dalam Al-Quran. Asma binti Abi Bakr, Ummu Syarik Ad Dausiyah, Ummu Kultsum binti ‘Uqbah, Hafsah binti Umar, Khaulah binti Tsa’labah, Ramlah binti Abi Sufyan, Zainab binti Zahsy, Aisyah binti Al Sidiq, Fatimah binti Rasulullah. Mereka adalah para wanita sejati yang mempertahakan keimanan mereka sampai mati. Keimanan mereka tidak tergadaikan oleh sinarnya kilauan emas, permata, keimanan mereka telah sangat terasah oleh ujian-ujian yang mereka lalui. Mereka adalah wanita yang dapat menjaga suaranya dari kaum laki-laki selain suaminya. Menjaga riasannya hanya untuk suami mereka. Mereka lah waita yang harus dicontoh oleh wanita-wanita di seluruh belahan dunia sampai akhir zaman.

Kepada para suami yang bekerja, jagalah pandangan kita dari hal-hal yang mengundang dosa. Jagalah hati kita supaya selalu ingat kepada Allah dan terus bersyukur akan anugrah yang Allah berikan berupa istri yang cantik dan anak yang sehat. Kepada para istri yang bekerja di kantor maupun yang bekerja di rumah, jagalah suara terhadap lawan jenis karena ayat nya sudah jelas. Janganlah berbicara yang menimbulkan sikap keberanian orang yang mendengarnya untuk berbuat tidak baik, kita tidak tahu hati/niat seseorang. Mudah-mudahan Allah menjaga diri, pasangan dan anak kita dari hal-hal yang dimurkai oleh Allah.

Wallahu’alam bishowab

This entry was posted in Dakwah, Manajemen Qalbu. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s